musik merupakan bahasa yang sangat universal dalam kehidupan sehari-hari. karena musik dapat menyatukan kita semua dalam berbagai hal. tentunya kita semua mempunyai pandangan yang positif dalam membicarakan hal ini tidak ada unsur negatif didalamnya.tetapi tidak sedikit pula orang yang beranggapan kalau musik itu tidak begitu berarti dalam hidup ini.
MUSIK memiliki arti yang berbeda menurut beberapa orang, tetapi menurut gua musik adalah sekumpulan nada yang dimainkan secara bersamaan entah itu gitar,drum,bass maupun alat musik lainnya menjadi satu. bermacam-macam genre musik membuat kita semua menjadi lebih nyaman dalam menentukan jenis genre mana yang lebih kita sukai. di indonesia musik POP banyak disukai oleh masyarakat. tetapi sayang untuk musik-musik bawah tanah atau yang lebih kita kenal dengan underground masih belum bisa seeksis musik pop saat ini.tetapi itu semua tidak menghalangi kita semua berkarya di bidang musik. perbedaan tidak seharusnya menjadi masalah justru dengan perbedaan itu seharusnya kita harus lebih bisa termotivasi. semoga saja industri musik di tanah air kita ini semakin maju. dan kata terakhir gua disini gua cuma menambahkan kalau musik itu bagi sebagian orang sudah menjadi bagian hidup, dan musik itu sudah ada didalam jiwa jadi tidak mungkin kalau kita mau menghilangkannya.
selamat menikmati berbagai hidangan artikel yang sudah saya posting kedalam blogg ini (selamat membaca)
Rabu, 19 Januari 2011
Rabu, 12 Januari 2011
budaya membolos
Lebaran baru saja usai.
Kompas Senin, 6 Oktober 2008 di halaman 2 mengangkat tulisan berjudul “Atasi Budaya Membolos”. Di duga sama seperti tahun tahun sebelumnya, pada hari pertama kerja kemungkinan diwarnai banyaknya meja kerja PNS yang kosong karena banyak pegawai tak masuk kerja tanpa izin.
Guru besar ilmu administrasi UI Eko Prasodjo menyatakan, budaya membolos terjadi tiap tahun karena hingga kini tidak ada sistem penilaian kinerja yang baik dalam birokrasi pemerintahan.
Demikian pula pendapat Koordinator Politik dan Hukum Anggaran Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Arif Nur Alam berpendapat, sanksi tegas harus diberikan kepada PNS yang mangkir, khususnya kepada elite birokrasi. Teguran tidak cukup, sanksi tegas penting untuk menimbulkan efek jera.
Namun sanksi tegas yang lazim dilakukan pada inspeksi mendadak yang selalu digelar pada hari pertama kerja pada tahun tahun sebelumnya menunjukkan tidak memberikan perubahan yang berarti pada sikap disiplin berikutnya.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan :
sumber : http://servoclinic.com
Kompas Senin, 6 Oktober 2008 di halaman 2 mengangkat tulisan berjudul “Atasi Budaya Membolos”. Di duga sama seperti tahun tahun sebelumnya, pada hari pertama kerja kemungkinan diwarnai banyaknya meja kerja PNS yang kosong karena banyak pegawai tak masuk kerja tanpa izin.
Guru besar ilmu administrasi UI Eko Prasodjo menyatakan, budaya membolos terjadi tiap tahun karena hingga kini tidak ada sistem penilaian kinerja yang baik dalam birokrasi pemerintahan.
Demikian pula pendapat Koordinator Politik dan Hukum Anggaran Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Arif Nur Alam berpendapat, sanksi tegas harus diberikan kepada PNS yang mangkir, khususnya kepada elite birokrasi. Teguran tidak cukup, sanksi tegas penting untuk menimbulkan efek jera.
Namun sanksi tegas yang lazim dilakukan pada inspeksi mendadak yang selalu digelar pada hari pertama kerja pada tahun tahun sebelumnya menunjukkan tidak memberikan perubahan yang berarti pada sikap disiplin berikutnya.
Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan :
- Sanksi yang diberikan belum cukup “menakutkan”, tebang pilih dan tidak dilakukan secara konsisten.
- Sikap disiplin sehari hari atasan yang buruk. Apalagi jika kebiasaan melanggar disiplin justrudi”contoh”dari kebiasaan korupsi waktu atasan seperti bekerja “santai”, main game, datang siang, pulang awal dsb. serta sikap “ewuh pekewuh” yang tidak tepat.
- Penyalah gunaan momen perayaan agama. Kebiasaan saling ”maaf memaafkan” dimanfaatkan untuk membenarkan perilaku tidak disiplin karyawan, padahal agama tidak mengajarkan demikian. Meminjam model sistem pada ISO 9000, perbaikan sistem terus menerus merupakan minimum persyaratan, kalau perlu naikkan bobot sanksi atas pelanggaran disiplin. Namun jika menilik pada 3 poin di atas maka budaya membolos adalah peristiwa “mental”. Jadi perbaikan sistem tanpa diikuti “tune up” mental hanyalah mengulang “cara salah” yang sama pada upaya perbaikan sebelumnya.
sumber : http://servoclinic.com
Langganan:
Komentar (Atom)
